Dampak dari LGBT yang paling jadi perhatian gue, laki laki perempuan "kumpul kumpul" menjadi hal yang wajar, padahal itu nggak wajar. Laki laki dan perempuan punya batasan dalam berhubungan. Makin marak LGBT, makin marak juga seks bebas. Penyakit seksual menular bertambah banyak seiring bertambah jumlah pelaku LGBT, hal ini menjadi pertanyaan, apakah kenaikan kasus penyakit seksual berhubungan dengan bertambah jumlah pelaku LGBT?
Dilihat dari masa lalu, pertama kali gue mengenal penyimpangan seksual ini waktu gue ngerti apa itu banci, bencong. Yang gue liat banci menjadi semacam hiburan dalam masyarakat. Keberadaan meraka seperti diterima menjadi bagian dari masyarakat walaupun sebagai bahan candaan aja. Banci bisa menjadi terkenal, masuk tivi, jadi artis, hingga makin banyak masyarakat yang mengenalnya. Perlahan lahan, keberadaan mereka menjadi hal wajar dalam suatu masyarakat. Gue pernah liat banci menjadi barisan depan dalam sebuah pawai kemerdekaan, banyak orang yang ketawa dan bersorak ria melihatnya. Si banci makin lincah, makin sumringah senyumnya. Mereka dianggap sebagai pemanis dalam sebuah pertunjukan, secara tidak langsung kita sudah memberikan akses dan keleluasaan kepada mereka. Mereka semakin percaya diri akan diri mereka yang menyimpang. Di kehidupan malam, gue liat laki laki yang suka jajan melihat peluang tidak beresiko jika berhubungan seksual dengan banci. Bisa jadi, dari situ berkembanglah bunga bunga asmara sesama jenis. Masyarakat waktu itu belum menganggap hal ini sebagai ancaman yang dahsyat, akibatnya kelompok banci menjadi bertambah jumlahnya bahkan gue pernah denger ada kontes buat banci. Ini pertanda semakin tinggi eksistensi banci dalam masyarakat. Lambat laun, masyarakat dan pemerintah merasa terancam dengan keberadaan mereka lalu semakin populerlah istilah LGBT. Disini gue nggak tahu, apakah kita terlambat dalam kasus LGBT, karena kasus tersebut sudah berakar, bahkan keberadaan mereka sudah ada jauh sebelum istilah LGBT lahir. Apakah ini termasuk salah kita yang buta akan cerita zaman-zaman terdahulu?
Menurut gue, pemikiran dan perilaku LGBT perlu diperangi, bukan pelaku LGBT karena mungkin saja mereka adalah korban dari trauma masa lalu. Sebagai sesama manusia, kita seharusnya menolong pelaku LGBT agar kembali ke jalan yang benar. Mungkin dengan berbagai pendekatan seperti mediasi, rehabilitasi para pelaku LGBT agar dapat menemukan kembali jati diri mereka sesungguhnya. Gue pernah dengar cerita tentang pelaku transgender, mereka nggak menemukan ketentraman diri setelah melakukan operasi mengganti kelamin, jadinya mereka operasi lagi untuk mengganti kembali kelaminnya. Menurut gue, seseorang yang lahir sebagai perempuan memiliki fitrah sebagai perempuan, laki-laki pun begitu. Sayangnya, fitrah itu nggak tumbuh dengan baik sehingga terjadi penyimpangan. Hati hati dalam bergaul salah satu cara agar kita terhindar dari LGBT. Pemikiran dan perilaku LGBT dapat menyusup melalui apa saja bahkan tanpa kita sadari. Jika ada kasus, lo punya teman dekat dan ternyata lo tau dia pelaku LGBT. Menurut gue, sebagai teman yang baik lo bantu teman lo ke jalan yang benar. Jika lo benar benar sayang sama teman lo. Namun, di satu sisi lo harus hati hati dan waspada, jangan sampai teman lo ikut mempengaruhi dan menggoyahkan pemikiran lo kalau LGBT itu benar, sebaliknya pengaruh lo yang harus lebih kuat ke teman lo agar dia menemukan jalan yang benar. Nggak usah lo paksa, perlahan tapi pasti.