Selasa, 06 November 2018

PEKAT nya LGBT

Tulisan ini mungkin menjadi konten sensitif buat beberapa orang, ini pendapat gue. Lo dan gue boleh nggak sependapat. Beberapa bulan belakangan pemerintah dibuat pusing dengan maraknya PEKAT salah satunya LGBT. Isu LGBT memang menjadi primadona beberapa tahun kebelakang. Jujur, gue nggak setuju dengan LGBT. Manusia itu cuman ada dua laki laki dan perempuan kecuali ada kelainan seksualnya secara biologis. Siapa kambing hitamnya? yaaa banyak pihak dan banyak faktor. Setiap penyimpangan yang terjadi pasti ada penyebabnya seperti trauma seksual di masa lalu, pergaulan, tekanan ekonomi, dsb. Pada kenyataannya pelaku LGBT yang sering dikambinghitamkan, didiskriminasi sama masyarakat. Hal ini menjadi dilema, di satu sisi sanksi sosial diharapkan menjadi cambukan agar pelaku LGBT sadar akan penyimpangan yang mereka perbuat dan untuk memberikan efek jera, di sisi lain ini mungkin justru menambah maraknya pemberontakan dari pelaku LGBT. Mudahnya akses informasi menambah kehebohan pemberontakan mereka, bahkan mereka mendapat dukungan dari pihak yang pro.

Dampak dari LGBT yang paling jadi perhatian gue, laki laki perempuan "kumpul kumpul" menjadi hal yang wajar, padahal itu nggak wajar. Laki laki dan perempuan punya batasan dalam berhubungan. Makin marak LGBT, makin marak juga seks bebas. Penyakit seksual menular bertambah banyak seiring bertambah jumlah pelaku LGBT, hal ini menjadi pertanyaan, apakah kenaikan kasus penyakit seksual berhubungan dengan bertambah jumlah pelaku LGBT?

Dilihat dari masa lalu, pertama kali gue mengenal penyimpangan seksual ini waktu gue ngerti apa itu banci, bencong. Yang gue liat banci menjadi semacam hiburan dalam masyarakat. Keberadaan meraka seperti diterima menjadi bagian dari masyarakat walaupun sebagai bahan candaan aja. Banci bisa menjadi terkenal, masuk tivi, jadi artis, hingga makin banyak masyarakat yang mengenalnya. Perlahan lahan, keberadaan mereka menjadi hal wajar dalam suatu masyarakat. Gue pernah liat banci menjadi barisan depan dalam sebuah pawai kemerdekaan, banyak orang yang ketawa dan bersorak ria melihatnya. Si banci makin lincah, makin sumringah senyumnya. Mereka dianggap sebagai pemanis dalam sebuah pertunjukan, secara tidak langsung kita sudah memberikan akses dan keleluasaan kepada mereka. Mereka semakin percaya diri akan diri mereka yang menyimpang. Di kehidupan malam, gue liat laki laki yang suka jajan melihat peluang tidak beresiko jika berhubungan seksual dengan banci. Bisa jadi, dari situ berkembanglah bunga bunga asmara sesama jenis. Masyarakat waktu itu belum menganggap hal ini sebagai ancaman yang dahsyat, akibatnya kelompok banci menjadi bertambah jumlahnya bahkan gue pernah denger ada kontes buat banci. Ini pertanda semakin tinggi eksistensi banci dalam masyarakat. Lambat laun, masyarakat dan pemerintah merasa terancam dengan keberadaan mereka lalu semakin populerlah istilah LGBT. Disini gue nggak tahu, apakah kita terlambat dalam kasus LGBT, karena kasus tersebut sudah berakar, bahkan keberadaan mereka sudah ada jauh sebelum istilah LGBT lahir. Apakah ini termasuk salah kita yang buta akan cerita zaman-zaman terdahulu?

Menurut gue, pemikiran dan perilaku LGBT perlu diperangi, bukan pelaku LGBT karena mungkin saja mereka adalah korban dari trauma masa lalu. Sebagai sesama manusia, kita seharusnya menolong pelaku LGBT agar kembali ke jalan yang benar. Mungkin dengan berbagai pendekatan seperti mediasi, rehabilitasi para pelaku LGBT agar dapat menemukan kembali jati diri mereka sesungguhnya. Gue pernah dengar cerita tentang pelaku transgender, mereka nggak menemukan ketentraman diri setelah melakukan operasi mengganti kelamin, jadinya mereka operasi lagi untuk mengganti kembali kelaminnya. Menurut gue, seseorang yang lahir sebagai perempuan memiliki fitrah sebagai perempuan, laki-laki pun begitu. Sayangnya, fitrah itu nggak tumbuh dengan baik sehingga terjadi penyimpangan. Hati hati dalam bergaul salah satu cara agar kita terhindar dari LGBT. Pemikiran dan perilaku LGBT dapat menyusup melalui apa saja bahkan tanpa kita sadari. Jika ada kasus, lo punya teman dekat dan ternyata lo tau dia pelaku LGBT. Menurut gue, sebagai teman yang baik lo bantu teman lo ke jalan yang benar. Jika lo benar benar sayang sama teman lo. Namun, di satu sisi lo harus hati hati dan waspada, jangan sampai teman lo ikut mempengaruhi dan menggoyahkan pemikiran lo kalau LGBT itu benar, sebaliknya pengaruh lo yang harus lebih kuat ke teman lo agar dia menemukan jalan yang benar. Nggak usah lo paksa, perlahan tapi pasti.

Selasa, 14 Agustus 2018

Skin Pores

Setiap orang memiliki pori pori wajah, pori pori ini seperti lubang lubang kecil pada wajah. Pori pori wajah ada 2, pertama yang mengeluarkan minyak atau sebum, kedua pori pori yang mengeluarkan keringat. Pori pori yang lebar dan kasat mata, tentu akan menjadi masalah bagi penampilan wajah

Apa itu pori pori?
Kulit kita memiliki rambut rambut halus kecuali telapak kaki dan telapak tangan. Bulu bulu halus ini memiliki folikel rambut di bawah kulit dan kelenjar minyak. Selain itu, kulit kita juga mempunyai kelenjar keringat. Nah, pori pori menjadi saluran seperti tabung dari folikel rambut dan kelenjar minyak dan juga kelenjar keringat. saluran ini akan bermuara di permukaan kulit.
Pada permukaan kulit, pori pori biasanya tampak seperti lobang lobang kecil, kadang pori pori wajah yg tampak bukan pori pori yang sebenarnya tapi hanya permukaan kulit yang tertekan.

Kenapa pori pori bisa melebar?
Yang pertama minyak/sebum yang berlebihan. Ketika minyak berkumpul di dalam pori pori dan bercampur dengan debu, polusi udara, make up, pori pori dapat tertutup. Akibatnya saluran pori akan melebar, pori akan terlihat lebih besar dari biasanya. Jika pori pori tetap tertutup, kulit wajah akan meradang nantinya akan muncul jerawat atau komedo.
Kedua, elastisitas kulit menurun terutama kulit disekitar pori. Kulit disekitar pori seperti mengerucut jadi pori tampak lebih lebar. Ketiga, faktor hormonal/siklus menstruasi. Keempat, penuaan, dan kelima terpapar sinar matahari, kulit yang terpapar matahari cenderung menjadi kering dan tidak supple, ini akan membuat pori pori wajah menjadi lebih lebar.

Bagaimana mengecilkan pori pori wajah?
Pori pori tidak akan pernah hilang, namun kita bisa meminimalisir ukurannya.
  1. eksfoliasi secara teratur sesuai kebutuhan kulit, maksimal 3 kali seminggu. Jangan gunakan bahan bahan yang terlalu abrasif karena akan merusak lapisan kulit. 
  2. Double cleansing, terutama untuk yang suka menggunakan make up
  3. Maskeran dengan kaolin clay mask 2 kali seminggu, masker ini dapat membantu agar pori pori wajah menjadi bersih. Jika keseringan muka kita bisa kering
  4. Menggunakan pelembab agar kulit menjadi elastis, terhidrasi, dan lembut. 
  5. Memakai suncreen, melindungi kulit dari sinar matahari agar kulit tetap supple
  6. Diet sehat, hindari makanan yang mengandung lemak tinggi dan mengandung minyak tidak sehat. Perbanyak konsumi buah, sayur, dan makanan berserat